Dituding Mengabaikan Pengaduan Aurelie Moeremans ke Komnas PA pada 2010, Kak Seto Beri Penjelasan

Masyarakat Indonesia saat ini tengah menyoroti kasus yang dialami artis Aurelie Moeremans semasa remaja.

Tayang:
Editor: Ahmad Tajudin
Kompas.com/A Faizal
Seto Mulyadi (Kak Seto) 

TRIBUNBANTEN.COM - Masyarakat Indonesia saat ini tengah menyoroti kasus yang dialami artis Aurelie Moeremans semasa remaja.

Melalui kisah hidupnya yang ditulis lewat buku berjudul "Broken Strings : Fragments of a Stolen Youth" terungkap kisah pilu yang dialami Aurelie Moeremans.

Setelah buku tersebut viral, banyak masyarakat berbondong-bondong meminta tanggapan pemerhati anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto.

Warganet menuding kak Seto mengabaikan pengaduan yang pernah disampaikan Aurelie Moeremans pada 2010.

Atas tudingan tersebut Kak Seto pun langsung angkat bicara menanggapi tudingan terkait tersebut.

Baca juga: Arti Broken Strings, Judul Buku Aurelie Moeremans yang Sedang Viral : Simak Maknanya

Melalui unggahan Instagram Story, Kak Seto meminta publik menyikapi kembali pemberitaan tersebut secara bijak dan tidak memelintir fakta.

Ia menegaskan bahwa pihaknya telah berupaya maksimal sesuai kapasitas dan tanggung-jawab yang dimiliki pada masa itu.

"Kiranya kita dapat menyikapi kembali pemberitaan terkait kasus tersebut dengan kepala dingin dan hati yang jernih, tanpa memelintir fakta ke arah pemahaman yang keliru," tulis Kak Seto dikutip Rabu (14/1/2026). 

Kak Seto menyampaikan, setiap peristiwa menyisakan luka, proses, sekaligus pembelajaran bagi seluruh pihak yang terlibat.

Namun, ia berharap pengangkatan kembali kasus lama itu tidak menjadi ruang untuk saling menuduh, memfitnah, atau menyerang secara personal.

"Apabila di tahun 2026 ini ada pihak yang kembali mengangkat kasus tahun 2010 tersebut, kiranya hal itu tidak dijadikan ruang untuk saling menuduh, memfitnah, menyerang secara personal, atau mengubah makna fakta yang sebenarnya," katanya.

 Ia mengajak masyarakat mengedepankan sikap bijak, adil, dan empati, serta mendorong semua pihak yang pernah terlibat agar dapat berdamai dengan masa lalu dan menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan.

"Kami berharap semua pihak yang pernah terlibat dapat terus pulih, berdamai dengan masa lalu, dan menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan," tulis Kak Seto.

Kak Seto menekankan, hingga saat ini persoalan perlindungan anak di Indonesia masih menjadi tantangan besar.

Menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian, kepedulian, dan kerja bersama secara sukarela maupun profesional.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved