Kisah Salinah, Lansia asal Pamarayan Serang Gagal Umrah, Tabungan Hasil Tani Raib Ditipu Muthawif

Dalam kasusnya, Salinah tak sendiri. Anaknya Sanimah (49 tahun) dan menantunya Sanusi (54 tahun) juga menjadi korban penipuan umrah

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ahmad Tajudin | Editor: Wawan Perdana
Dok./Keluarga
KORBAN PENIPUAN - Salinah (71 tahun), perempuan lanjut usia (Lansia) asal Kampung Golok, RT/RW 13/04, Desa Kampung Baru, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, jadi korban penipuan umrah saat ditemui di rumahnya, Sabtu (14/2/2026). Terduga pelaku penipuan kini telah ditangkap Polres Serang. 

Mereka diantar oleh keluarga besar korban dan sampai Bandara pukul 10.00 WIB, lantaran korban dijanjikan berangkat pada pukul 18.00 WIB.

Sebelum berangkat, keluarga korban sudah merasakan ada beberapa kejanggalan dan kecurigaan.

Mulai dari tiket dan visa yang tak kunjung ditunjukkan ke keluarga, tidak boleh membawa identitas KTP, hingga paspor korban dipegang pelaku.

Namun dikarenakan korban yang saat itu percaya penuh kepada pelaku, karena pelaku dikenal sebagai tokoh agama dengan latar belakang keluarga yang terpandang. 

Akhirnya korban dan keluarga korban saat itu mencoba tetap mempercayai pelaku.

Berdasarkan pengakuan korban, pada saat detik-detik menuju jadwal pemberangkatan. Pelaku mengajak korban untuk berjalan menuju lokasi penerbangan dan berpamitan ke keluarga seolah pesawatnya akan segera terbang.

Setelah keluarga besar pulang, korban ternyata belum juga berangkat ke Tanah Suci melainkan diajak ke hotel.

"Saya enggak terbang sampai jam 18.30 WIB masih di Bandara. Saya, suami, dan ibu saya belum juga masuk pesawat, karena pelaku beralasan bahwa visa belum kunjung terbit," kata Sanimah.

Saat itu, korban Sani mengaku dilarang mengisi kuota internet di handphone, sehingga korban tak bisa menghubungi keluarga.

Korban yang sempat bertanya-tanya, kenapa tidak jadi berangkat dan malah menginap di hotel.

Merasa ada yang tidak beres, karena pada Senin (9/2/2026) visa tak kunjung terbit hingga pukul 17.00 WIB.

Korban akhirnya meminta bantuan seseorang yang ada di dekat hotel untuk meminta hotspot jaringan internet.

"Saya inisiatif memberitahu anak saya bahwa saya tidak berangkat ke Tanah Suci, kita diminta menginap di hotel," Katanya.

Setelah memberitahu peristiwa tersebut kepada keluarga di rumah, pihak keluarga akhirnya menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres dan memastikan korban telah ditipu.

Pada Senin, (9/2/2025) sore pihak keluarga langsung mendatangi hotel tempat korban menginap.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved