Kasus Keracunan Marak, Pemkot Serang dan BPOM Perketat Pengawasan Makanan MBG

Kasus keracunan makanan marak di Serang dan Lebak. Pemkot Serang bersama BPOM perketat pengawasan kualitas makanan MBG.

Penulis: Muhamad Rifky Juliana | Editor: Abdul Rosid
Muhamad Rifky Juliana/TribunBanten.com
Potret proses penyajian Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Cigoong 1 Walantaka, Kota Serang, Senin (8/9/2025). 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhammad Rifky Juliana

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Maraknya kasus keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa di Kabupaten Serang dan Kabupaten Lebak usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) beberapa waktu lalu, menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Serang.

Atas kejadian tersebut, Pemkot Serang menegaskan akan memperketat pengawasan kualitas makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Pernyataan ini disampaikan dalam acara Grand Launching SPPG Cigoong 1, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Senin (8/9/2025).

Program MBG menyasar siswa sekolah dasar hingga menengah, termasuk madrasah, serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3).

MBG ini tak hanya meningkatkan asupan gizi, tetapi juga membantu menekan angka stunting di Kota Serang.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, Ahmad Hasanuddin, mengatakan program MBG merupakan peluang besar untuk memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat.

“Program ini bermanfaat bagi anak-anak sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga madrasah. Bahkan kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita juga mendapatkan manfaat,” katanya.

Hasan menekankan pentingnya pengawasan kualitas makanan secara menyeluruh.

“Kualitas makanan harus diperhatikan dari sisi kimia, bakteriologi, maupun fisik. Itu penting agar makanan yang diberikan aman. Harapan saya, dengan adanya program ini, ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak sekolah bisa lebih sehat serta berkontribusi terhadap penurunan stunting,” ucap Hasan.

Menurutnya, fasilitas penyajian makanan di SPPG Cigoong 1 sudah cukup memadai, baik proses pemisahan area memasak dan pemorsian, ketersediaan tempat cuci, hingga adanya insinerator untuk pengolahan limbah.

Namun, ia mengakui masih ada beberapa kekurangan kecil yang harus disempurnakan.

“Wajar, karena ini baru pertama kali dilaksanakan. Dinkes akan terus melakukan pembinaan, terutama soal higienitas makanan dan penjamah makanan,” ujarnya.

Pihaknya juga menyiapkan tim khusus untuk memberikan pelatihan kepada penjamah makanan.

“Kami punya bidang yang menangani makanan dan minuman. Mereka akan melatih penjamah makanan, baik terintegrasi dengan program ini maupun melalui kegiatan khusus. Sebab, kasus keracunan bisa terjadi bila makanan tidak segera dikonsumsi atau disimpan dengan cara yang salah,” jelas Hasan.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved