Guru MTs di Pandeglang Diduga Dipukul Relawan MBG, Ini Penjelasan Terduga Pelaku

Guru MTs berinisial S di Desa Surianeun, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten, diduga menjadi korban pemukulan saat berada di sekolah

Tayang:
Penulis: Misbahudin | Editor: Abdul Rosid
CT: Ashabur Rizky
ILUSTRASI Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) berinisial S (34) di Desa Surianeun, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten, diduga menjadi korban pemukulan saat berada di lingkungan sekolah. 

Laporan wartawan TribunBanten.com, Misbahudin

TRIBUNBANTEN.COM, PANDEGLANG - Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) berinisial S (34) di Desa Surianeun, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten, diduga menjadi korban pemukulan saat berada di lingkungan sekolah.

Peristiwa tersebut terjadi di MTs Raudatul Muttaqin, Desa Surianeun, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Senin (11/5/2026) sekitar pukul 07.30 WIB.

Pihak terlapor berinisial M akhirnya buka suara terkait insiden yang menimpa guru MTs tersebut. Ia menjelaskan, kejadian bermula dari cekcok antara dirinya dengan korban yang dipicu unggahan status Facebook.

M mengaku merasa tersinggung dengan unggahan korban yang dianggap menyindir dirinya terkait persoalan pribadi.

Baca juga: Pemkab Lebak Laporkan 5 Orang Pemilik Tambang Pasir Laut Ilegal di Wanasalam ke Polisi

Kakak terduga pelaku itu menjelaskan, saat cekcok berlangsung, adiknya yang tengah membantu pendistribusian paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di MTs Raudatul Muttaqin diduga spontan memukul korban.

"Mungkin adik saya itu refleks dan spontan mengambil tindakan pada saat itu," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (15/5/2026).

IIa mengungkapkan, awal percekcokan dipicu unggahan status di akun Facebook milik S yang dinilai menyindir dirinya terkait persoalan pribadi.

Menurut M, dirinya sebelumnya kerap mengkritik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola oleh S sebagai PIC.

"Kemarin ada status Facebook dia yang isinya, 'Kamana nu edan nu tukang ngabaceo tea. Kuari mah ja cicing ges dihapan ieuh'," katanya.

M menilai persoalan pribadi tersebut dibawa ke media sosial sehingga membuat dirinya tersinggung.

Karena itu, ia kemudian menegur S terkait unggahan status tersebut.

"Saya tegur, menanyakan postingan status di Facebook itu ditujukan kepada siapa. Saya tanya kepada S, lalu dia menjawab, 'Kan kamu yang tadinya memulai'," ujarnya.

"Akhirnya cekcok di situ. Saat saya cekcok, adik saya dari belakang mungkin karena melihat kakaknya cekcok, secara spontan menonjok S," tambahnya.

Saat ditanya mengenai dugaan ancaman terhadap korban, M membantah hal tersebut.

"Saya tidak pernah mengancam S. Adapun sekarang ini kasusnya sedang ditangani pihak Polsek Patia," ucapnya.

M juga menegaskan, adiknya bukan relawan SPPG dari Pagelaran. Namun, pada saat kejadian, adiknya hanya membantu temannya mendistribusikan paket MBG.

"Statusnya bukan relawan SPPG, adik saya itu. Tapi pada hari kejadian, adik saya sedang membantu temannya penyaluran MBG di sekolah MTs itu," katanya.

Sementara itu, lanjut M, yang bekerja di dapur SPPG program MBG adalah S karena berstatus sebagai PIC dapur SPPG di Desa Surianeun.

"S itu PIC dapur SPPG di Desa Surianeun. Namun saat ini SPPG itu disuspend oleh pihak BGN," pungkasnya.

Kronologi Kejadian

Korban mengaku, awal mula kejadian bermula saat dirinya membuat unggahan di media sosial Facebook.

Dalam unggahan tersebut, korban menuliskan kalimat berbahasa Sunda yang berbunyi, 'Mana iye nu edan, ja ges dihuapan mah cageur,” yang berarti 'Mana yang gila, kalau sudah disuapi sembuh'.

Tak lama kemudian, seorang pria berinisial M mendatangi korban ke sekolah saat mengantar program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Korban mengatakan, M langsung menghampiri dirinya sambil menarik baju dan menanyakan soal unggahan di media sosial tersebut.

"Nah M itu menghampiri saya, katanya, ‘Ngapain kamu bikin status, nyindir saya ya?’ Saya jawab, ‘Ih saya enggak tahu, ada nama kamu enggak di status itu," kata korban dalam sambungan telepon, Senin (11/5/2026). 

Korban mengaku sempat terjadi cekcok antara dirinya dengan M.

"Saya jawab lagi, malah kamu yang nyindir saya di status. Sempat cekcok sama dia," sambungnya.

Namun, saat cekcok berlangsung, teman M yang berinisial U diduga langsung memukul korban dari arah belakang hingga mengenai bagian kepala dekat telinga.

"Jadi yang mukul itu tidak tahu apa-apa. Saya dipukul sampai terperosok sekitar dua meter. Baju juga jadi kotor," ujarnya.

Korban Diancam Dibunuh

Korban mengaku, setelah pemukulan terjadi, pelaku berinisial U juga sempat mengancam akan membunuh dirinya apabila melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

"Saya diancam, ‘Awas kalau lapor ke polisi, saya akan bunuh," katanya.

Saat kejadian berlangsung, korban mengaku sedang mengenakan seragam mengajar, sedangkan pelaku dan rekannya memakai pakaian relawan SPPG saat mengantar MBG.

"Saya pakai seragam mengajar karena mau ngajar. Mereka pakai baju relawan MBG, posisinya lagi nganter MBG," ujarnya.

Korban menyebut, para pelaku merupakan relawan MBG yang bertugas di Kecamatan Pagelaran.

"Dapurnya di Pagelaran, di belakang rumah anggota DPRD berinisial U," katanya.

Korban Lapor ke Polisi

Korban mengaku telah melaporkan dugaan penganiayaan tersebut ke Polsek Patia.

"Sudah lapor ke Polsek Patia. Bahkan saya juga sudah visum ke Rumah Sakit Labuan," pungkasnya.

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved