Stunting

Cegah Stunting dengan Cerdas Parenting

Dalam hal tumbuh kembang anak, tergantung pada cara orang tua mengurus dan membesarkan, terutama dalam asupan bergizi untuk terhindar dari stunting

Penulis: Siti Nurul Hamidah | Editor: Siti Nurul Hamidah
wabisabimind.tumblr.com
Ilustrasi, pencegahan stunting sejak dini perlu dilakukan agar perkembangan tumbuh kembang anak tidak terhambat 

TRIBUNBANTEN.COM - Orang tua yang cerdas dalam parenting dapat membantu mencegah stunting sedini mungkin.

Stunting adalah permasalahan anak dengan kekurangan gizi, kondisi ketika balita memiliki tinggi badan di bawah rata-rata yang menyebabkan anak gagal tumbuh dan berkembang.

Anak yang terkena stunting akan mengalami banyak gangguan kesehatan, mudah terserang penyakit, infeksi, perkembangan level kognitif rendah, dan IQ di bawah rata-rata.

Dampak stunting bagi anak adalah terjadinya gangguan sistem kekebalan tubuh, masalah fungsi otak, dan perkembangan organ yang serius.

Baca juga: 15 Kegiatan Pencegahan Stunting di Desa

Menurut Kementerian Kesehatan RI, pencegahan stunting sejak dini perlu dilakukan agar perkembangan tumbuh kembang anak tidak terhambat.

Sejak buah hati dalam kandungan hingga masa tumbuh perkembangan krusial usia 2 tahun, usia lanjutan hingga 5 tahun, dan pertumbuhan anak hingga remaja.

Stunting menjadi masalah kesehatan anak yang serius jika tidak ditangani dengan cepat, pencegahannya dapat dilakukan dari hal terdekat dan yang paling sederhana, yaitu dengan parenting.

Parenting adalah pola asuh orang tua terhadap anak, mulai dari memenuhi kebutuhan gizi yaitu makanan dan minuman, psikologis, bersosialisasi hingga pemberian pendidikan. 

Baca juga: Cegah Stunting, Pahami Tumbuh Kembang Anak Sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak

Lalu seberapa penting parenting dalam pencegahan stunting?

Dalam hal ini tumbuh kembang anak, tergantung pada cara orang tua mengurus dan membesarkan.

Dari mulai asupan makanan bergizi hingga pengajaran soal pendidikan, kebersihan dan kesehatan menjadi peran penting orang tua.

Kehidupan anak sejak dalam kandungan bergantung pada orang tua.

Sehingga ayah dan ibu memegang peran sentral terhadap kelangsungan dan perlindungan kehidupan mereka, terutama untuk terhindarnya dari stunting.

Sebagaimana yang tertera dalam UU perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014 Pasal 1 yang menjelaskan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Di mana dalam tumbuh kembangnya tidak dapat dilepaskan orang tua.

Dikutip dari Kementerian Kesehatan pada Minggu (6/11/2022), pola asuh (parenting) yang tidak baik dari orang tua menjadi penyebab anak terkena stunting.

Lalu Bagaimana parenting yang baik agar anak terhindar stunting?

Inilah langkah cerdas parenting orang tua dalam mencegah stunting yang TribunBanten.com rangkum dari berbagai sumber.

Baca juga: Aplikasi eHDW: Aplikasi Pembantu Pencegahan Stunting di Desa

1. Jangan Berpikir Parenting Dipelajari Setelah Anak Lahir

Untuk orang tua dan calon orang tua, perlu digaris bawahi jika parenting tidak boleh dipelajari setelah anak lahir.

Ini adalah langkah yang keliru, merujuk pada Kementerian Kesehatan RI, pola asuh yang baik harus diterapkan sebelum anak lahir.

Terhitung sejak anak dalam kandungan untuk mengukur 1000 hari kehidupan pertama anak.

Urusan gizi dan segala hal kecil terkait buah hati harus dipersiapkan sedini mungkin.

2. Kesehatan Anak Berasal dari Kesehatan Orang Tua

Anak yang sehat harus didahului dengan orang tua yang sehat, terutama untuk ibu hamil, asupan gizi dan tingkat  harus diperhatikan

Ayah juga berperan penting untuk tumbuh kembang anak ibu.

Baca juga: Targetkan Turun 14 Persen di Tahun 2024, Pemerintah Gencar Atasi Stunting

Seorang ayah harus bisa mendampingi ibu dalam masa-masa sulitnya, memberikan support agar ibu bisa memberikan ASI eksklusif.

Dalam hal ini kesehatan kedua orang tua menjadi penting untuk anak terhindar dari stunting.

Jalani pola hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan dan konsumsi asupan gizi seimbang

3. Perencanaan Kehamilan dan Usia yang Tepat

Untuk anak yang sehat pastikan calon ibu dalam masa-masa subur.

Calon ibu juga tidak boleh dibawah umur karena faktor risiko anak stunting akan jadi lebih besar.

Setidaknya calon ibu minimal harus berusia 20 tahun ke atas, tidak boleh usia belasan tahun (remaja).

Jika hamil di usia remaja, pembentukan sel telur menjadi pertimbangan karena pada usia itu sistem reproduksi belum cukup sempurna.

Rencanakan kehamilan di usia yang tepat, pola asupan sejak remaja menjadi bahan pertimbangan dalam pembentukan sel telur.

Baca juga: Kenali Apa itu Stunting dan Risikonya

Untuk laki-laki juga demikian, yaitu dalam proses sistem produksi sperma.

Dalam prosesnya testis membutuhkan waktu 10 minggu (70-75 hari) untuk matang

Setelahnya disimpan dalam epididimis dan bertahan hingga 2 minggu, sebelum keluar melalui cara ejakulasi.

Sehingga untuk pematangan sperma yang sempurna, pihak laki-laki membutuhkan gizi yang baik agar menghasilkan sperma berkualitas baik untuk dapat membuahi sel telur.

4. Jaga Buah Hati Sejak dalam Kandungan

Ketika hamil, pastikan buah hati menerima vitamin dan asupan makanan bergizi.

orang tua, terutama Ibu harus mementingkan keseimbangan gizi dan vitamin yang masuk ke dalam tubuh.

Mengkonsumsi makanan selama kehamilan tidak boleh asal enak, tetapi harus sehat.

Baca juga: Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk, Serupa Tapi Tidak Sama

5. Pemberian ASI Eksklusif

Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi. Pada bayi usia 0-6 bulan pertama, satu-satunya makanan yang mampu terserap dengan sempurna adalah ASI. 

Sehingga keberhasilan pemberian ASI eksklusif akan menentukan keberlangsungan pemberian ASI hingga 2 tahun atau lebih.

Pemberian ASI eksklusif mendorong bayi untuk tumbuh optimal karena sejatinya menyusui bayi tidak hanya memberikan makanan. 

Tetapi juga mentransfer antibodi sebagai bentuk perlindungan terhadap infeksi. 

Baca juga: Ciri Anak Terkena Stunting, Kenali Sejak Dini 

Penting untuk diketahui, proses menyusui tidaklah mudah, sehingga edukasi manajemen laktasi dan praktek menyusui harus terus dilakukan 

Ayah juga harus memberikan dukungan pada ibu menyusui, agar ibu tidak merasa terbebani karena harus menyusui.

6. Pemberian Makanan Pendamping ASI Bergizi

Makanan pendamping ASI harus dipastikan sehat dan bergizi serta seimbang

Makanan yang aman dari bahan berbahaya, dan diberikan secara responsif.

Tidak harus bahan pangan yang mahal, bahan pangan lokal asal memenuhi konsep ini maka anak sudah dapat tercukupi kebutuhan nutrisinya. 

Para orang tua wajib mengetahui bahwa makanan pendamping ASI wajib diberikan ketika bayi sudah menginjak usia 6 bulan.

Hal ini dilakukan karena asupan ASI saja sudah tidaklah cukup memenuhi kebutuhan buah hati.

Pemberian MP-ASI yang telat dapat membuat tumbuh kembang anak terganggu, salah satunya seperti adanya gangguan makan ataupun gagal tumbuh. 

Sedangkan pemberian MP-ASI di bawah 6 bulan juga berbahaya.

Khawatir sistem pencernaan buah hati belum siap, sehingga harus berdasarkan dengan rekomendasi dokter.

Baca juga: Tekan Angka Stunting, Pemerintah Siapkan Subsidi Beras Fortifikasi, Moeldoko: Agar Gizinya Seimbang

7. Lingkungan Bersih dan Pola Hidup Sehat

Orang tua harus memahami betul bahwa kebersihan dan pola hidup sehat mendorong anak terhindar stunting.

Pastikan orang tua memiliki kebiasaan yang sehat, lingkungan yang terjaga kebersihannya, sanitasi dan air konsumsi yang steril.

Untuk anak yang sehat dimulai dari orang tua yang sehat

8. Pemberian Imunisasi

Banyak bukti yang menyebutkan bahwa beberapa penyakit yang sebelumnya menjadi wabah hilang dengan vaksinasi.

Sehingga pemberian imunisasi dapat mencegah terjadinya penyakit dan melatih antibody bayi agar kebal terhadap penyakit.

Baca juga: Cegah Stunting Sedini Mungkin, Sejak dalam Kandungan Hingga Fase Usia Keemasan Anak

9. Jaga Jarak Kelahiran Anak

Untuk orang tua, pastikan jarak usia kelahiran anak diperhatikan.

Tidak disarankan balita yang masih kecil, namun Ibu sudah mengandung kembali.

Hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan anak terjaga dan memastikan tumbuh kembangnya dengan baik.

Ambil jarak kelahiran anak yang aman, minimal 3 tahun usia anak.

10. Pantau Tumbuh Kembang Anak

Sejak anak dilahirkan orang tua tidak boleh lengah, pastikan kesehatan buah hati menjadi prioritas.

Dalam hal ini orang tua dituntut untuk peka terhadap kondisi anak

Memahami apa saja pencapaian anak terhadap fase hidupnya seperti kapan buah hati dapat berjalan sendiri, berbicara, memakai baju sendiri, dan sebagainya.

Baca juga: Kejar Stunting Turun hingga 14 Persen, BKKBN: 1,3 Juta Keluarga di Banten Masih Beresiko

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved