Bagian V: Perantau Langit

Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan

Editor: Abdul Rosid
Muhammad Uqel/TribunBanten.com
Penulis Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama. 

Penulis Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama.

TRIBUNBANTEN.COM - Ijazah Mengajar dari Langit Ilmu

Malam itu, Makkah seakan bergetar oleh dzikir yang tak terdengar.
Langitnya jernih, bulan menggantung di atas Masjidil Haram seperti lentera yang dijaga malaikat.

Aku masih muda,  tapi tinta di jariku sudah seperti mengalir sendiri.
Selama bertahun-tahun aku belajar, menulis, menyalin, dan memohon pemahaman,
hingga setiap kata dari para guru terasa hidup di nadi.

Di tengah halaqah malam itu, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menatapku lama.
Di sekelilingnya, para santri Haramain duduk melingkar dengan wajah penuh takzim.
Suara beliau tenang, tapi setiap suku katanya memantul ke dinding hati.

“Nawawi, ilmu itu amanah, bukan kemegahan.
Dan amanah ini kini aku serahkan padamu.”

Ia mengangkat tanganku, menutupnya dengan telapak tangannya sendiri yang halus tapi kokoh.
Di mata beliau kulihat keharuan yang sulit disembunyikan.
Ia membaca doa panjang dalam bahasa Arab yang menggetarkan dada para hadirin:
sebuah ijazah kubra, izin untuk mengajar, berfatwa, dan menulis atas nama ilmu.

“Aku ridha engkau mengajarkan ilmu yang telah engkau ambil dariku,” katanya lembut.
“Ajarkan dengan cinta, karena fiqh tanpa rahmah hanyalah bayangan tanpa tubuh.”

Aku menunduk, air mata menitik tanpa bisa ditahan.
Tanganku bergetar menerima ijazah yang ditulis dengan tinta hitam pekat, bukan hanya tanda, tapi sumpah.
Sumpah antara murid dan guru, antara ilmu dan kehidupan, antara Tanara dan Makkah.

Para santri bangkit berdiri, satu per satu menyalamiku.
Mereka tahu, malam itu bukan sekadar perpisahan, tetapi kelahiran seorang guru baru di Masjidil Haram.

Dan di tengah kerumunan itu, Sayyid Zaini Dahlan berkata lirih:

“Engkau bukan lagi murid, wahai Nawawi.
Engkau kini adalah bagian dari sanad ilmu yang akan terus hidup.
Jangan sombong dengan pena, sebab pena adalah amanat para nabi.”

Aku hanya mampu menjawab dengan dada yang bergetar:

“Guru, andai ilmu ini laut, aku hanyalah ombak kecil di sisinya.”

Beliau tersenyum, lalu memelukku.
Wangi amber bercampur debu pasir, dan aku merasa seperti dipeluk masa depan yang belum kutahu arahnya.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved