Marshel Widianto Dihujat Gara-gara Unggah Video Demo Lama: Saya Sama Sekali Tidak Dibayar

Marshel Widianto mengaku dirinya sama sekali tidak menerima bayaran dan video tersebut sudah ia hapus dari akun Instagramnya.

|
Editor: Vega Dhini
Warta Kota/Ikhwana
MARSHEL WIDIANTO - Marshel Widianto sempat mengunggah sebuah video lawas yang memperlihatkan suasana damai antara aparat dan demonstran, video tersebut menuai kritik keras dari warganet. 

“Saya salah karena tidak berpikir panjang sebelum menaikan video itu, memang bodoh saya. "

"Saya sama sekali tidak dibayar dan video tersebut pun sudah saya take down,” lanjutnya.

“Memang bodoh saya dan tolol. Silahkan maki saya sepuasnya, saya terima konsekuensi atas kebodohan saya,” tambahnya.

Meski telah meminta maaf hingga bantah terima bayaran, namun tak sedikit publik yang merasa tak percaya. 

"Antara kena tipu 150jt nya gagal caer jadi nyesel atau emg nyesel beneran ni cel? Hahaha," timpal akun @sals.bil:

"Lu kenapa dari dulu begini mulu dah bang? Abis bikin kesalahan, update pasrah buat di maki-maki," sahut akun @echatyanna. 

"Paling lu takedown karna temen temen artis ada yg negur lu kan, mamam tu duit darah!," komentar akun @mynamejelly_. 

Unggahan Jerome Polin soal Bayaran Buzzer Pemerintah

Jerome Polin beberkan penawaran fantastis sebesar Rp 150 juta untuk sekali unggah konten di media sosial sebagai bagian dari kampanye ajakan damai di akun Instagram pribadinya.

Jerome, yang dikenal dengan gaya komunikasinya yang lugas dan edukatif, menolak tawaran tersebut sekaligus menyinggung soal transparansi penggunaan uang negara.

"Dear agency dan KOL, aku mohon untuk kali ini, jangan korbanin rakyat buat kepentingan kalian sendiri," tegas Jerome dilansir dari akun Instagram miliknya, Jumat (29/8/2025).

Pemilik nama lengkap Jerome Polin Sijabat ini menilai tawaran sebesar Rp 150 juta untuk satu unggahan terlalu berlebihan, apalagi jika sumber pendanaannya berasal dari anggaran publik. 

Ia menekankan bahwa dana rakyat seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan mendesak, bukan untuk pencitraan semata.

Dalam unggahan lain, Jerome bahkan menyebut bahwa jika dana sebesar itu dialihkan untuk kepentingan guru, maka puluhan pendidik bisa lebih sejahtera.

"Uang rakyat dipake buat bayar buzzer per orang Rp 150 juta, kalau dipake buat naikin gaji guru per orang Rp 10 juta, udah bisa bikin 15 guru hidup sejahtera selama sebulan," imbuh pria berusia 27 tahun ini. 

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved